Selamat Jalan, Sahabat..

2 Apr 2010

Tata menengadahkan wajahnya menatap langit yang tengah mendung. Sepertinya langit sedang merasakan apa yang ia rasakan sekarang. Matahari kehilangan cahayanya yang bersinar terang dan hujan pun segera datang menghampiri jagat raya ini. Anehnya, dia tak begitu merasa terganggu dengan suasana seperti itu, tidak seperti biasanya. Perasaannya begitu hampa dan sulit untuk dijelaskan. Ia terus meratapi kuburan yang kini berada di hadapannya. Sesekali ia melamun dan tertawa, lalu kembali menangis. Hingga ucapan seseorang menghentikan tangisannya. Ta, ayo pulang! Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.. ajak ibu perlahan, sedikit berbisik.


Sebentar lagi ya, Bu? Aku masih ingin disini, ingin ngobrol sama Robi sebelum ia pergi lebih jauh, jawab Tata lirih.
Baiklah.. Kami tunggu di mobil ya, Sayang. Jangan terlalu lama. Ujar ayahnya sambil pergi menjauh, membiarkan Tata sendiri.


Angin yang berhembus cukup kencang disertai rintik-rintik hujan yang membasahinya membuat Tata terhanyut dalam sebuah lamunan. Suasana sepi seperti ini membawanya pergi jauh mengingat kembali keadaan 2 tahun yang lalu, ketika dia pertama kali berjumpa sahabat yang sangat disayanginya, Robi. Saat itu Tata dan Robi sama-sama masih berseragam putih abu. Mereka saling menyayangi satu sama lain, berbagi disaat sedang sedih dan senang, baik dalam suka maupun duka. Tata merasa sangat nyaman apabila bersama dengan Robi. Baik Tata maupun Robi merupakan siswa yang pandai dalam bidang mata pelajaran yang berlainan. Tata ahli dalam mata pelajaran sosial, sedangkan Robi pintar dalam bidang mata pelajaran hitungan. Sehingga keduanya dapat saling mengisi kekurangannya. Sungguh indah masa-masa dalam lamunannya itu.


Tetapi, hari ini, ia tak akan pernah mendengar suaranya lagi. Ia tak akan pernah melihat senyuman yang dapat membuat hatinya tenang. Ia hanya dapat melihat batu nisan yang bertuliskan nama sahabatnya. Sahabat yang sangat Tata sayangi itu, kini tengah tenang di alam sana. Terkadang Tata berpikir, mengapa Robi diberi penyakit separah itu sehingga ia harus meninggalakannya secepat itu? Dan mengapa Robi tak sempat memberitahunya, bahkan di saat-saat terakhir?

Air mata terus jatuh dan membasahi pipinya. Dia kembali teringat ketika masa-masa saat itu. Mereka harus dipisahkan oleh jarak, ketika Robi harus pindah sekolah karena ayahnya yang berpindah tugas ke daerah Yogyakarta. Dan Robi pun pergi meninggalkan Tata dengan segudang kenangan manis. Saat di Yogyakarta pun, Robi tak lantas begitu saja memutuskan hubungannya dengan Tata, bahkan dia sering menelpon Tata untuk sekadar melepaskan rasa rindunya dengan Tata. Robi sudah merasa Tata adalah belahan jiwanya, terlebih karena Robi sudah tidak mempunyai ibu. Dan Robi memang tidak terlalu dekat dengan ayahnya dan keluarganya. Sanak saudara Robi jauh satu sama lain. Maka tak heran, jika Robi selalu merasa kesepian dan akhirnya menganggap Tata adalah satu-satunya teman hidup yang sangat berharga untuknya. Tata masih teringat ketika Robi sering melontarkan lawakan kecil sehingga membuat Tata tertawa mendengarnya, walaupun lawakan itu dilontarkannya lewat telpon.

Eh, sebulan lagi kamu ulang tahun ya, Ta? Tanya Robi disela obrolan mereka. Iya, emang kenapa? jawab Tata. Hmmm.. nanti aku ke sana ya? Aku pengen ngerayainnya sama kamu, lagian aku kangen banget sama kamu, udah lama gak ketemu Ujar Robi. Oke, aku tunggu ya, Rob jawab Tata. Iya, aku mau pesen tiket pesawat dari sekarang. Wah, jadi gak sabar pengen cepet-cepet ke Bandung, cepet ketemu sama kamu, lanjut Robi.

Sebulan setelah percakapan berlangsung, Tata yang akan berulang tahun pada tanggal 14 Januari tengah mempersiapkna kedatangan sahabat tercintanya itu. Rencananya, Robi akan datang ke Bandung pada tanggal 12 Januari. Tata yang benar-benar tidak tahu menahu tentang kondisi Robi saat itu, benar-benar shock ketika ia mendapat kabar bahwa Robi masuk ke rumah sakit saat ia akan berangkat menuju Bandung. Apalagi ketika ayah Robi memberitahu bahwa selama ini Robi tengah menderita kanker otak. Dan sekarang, kanker yang menjalari otakya itu sudah mencapai stadium empat. Tata sangat sedih mendengar hal itu, hatinya serasa tercabik-cabik mendengar sahabat tercintanya sakit parah. Tetapi ia juga kecewa terhadap Robi karena selama ini ia tidak berkata jujur kepadanya dan malah menyembunyikannya.

Om, bagaimana keadaan Robi sekarang? tanya Tata kepada Ayah Robi suatu hari melalui telepon.

Robi sekarang sedang koma, Ta! Kanker otaknya telah mencapai stadium akhir, ujar Ayah Robi dengan suara rendah seakan menahan rasa sedih.

Tata terdiam. Diam agak lama. Dia tak bisa berkata apa-apa saat itu. Bahkan dia tak tahu apa yang tengah ia rasakan sekarang. Rasanya ia ingin menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Setelah menutup telepon, dia langsung berkata sambil menangis, Ya Allah, mengapa orang yang sangat aku sayangi selama ini harus merasakan rasa sakit itu? Dan mengapa ia tak pernah berkata apa-apa mengenai penyakitnya itu? Inikah kado ulang tahun bagiku?


Saat-saat itu memang berat bagi Tata, namun dia tak ingin terlalu larut dalam kesedihan yang tentu saja akan lebih memberatkan hati Robi. Justru saat itu ia harus kuat dan menyemangati Robi serta senantiasa mendoakan Robi agar dia sembuh dan ia tak henti-hentinya mengharapakn suatu keajaiban Allah.


Robi telah bangun dari koma yang cukup lama. Dan ia pun telah diperbolehkan pulang ke rumahnya. Saat itu, Robi mulai mengabarkan keadaannya pada Tata. Walaupun Tata sedih, namun sebisa mungkin saat Robi menelepon padanya dia terlihat tegar dan selalu menyemangati Robi.

Wah, ada yang udah pulang dari rumah sakit rupanya? Gimana rasanya dirawat di rumah sakit, Rob? canda Tata pada Robi.

Ya, namanya juga di rumah sakit, apa sih yang enak di rumah sakit? Gak enak tau di rumah sakit itu, kesiksa banget rasanya! Hahaa. Jawab Robi dengan bercanda.

Hmmm makanya mulai sekarang jaga kesehatanmu, Rob! Cepet sembuh yaa.. ujar Tata menahan rasa sedih. Ia berusaha untuk tidak menanyakan kenapa Robi tak memberitahukan soal penyakitnya itu kepadanya. Ia tidak ingin membuat Robi bertambah sedih.

Tak lama sejak percakapan itu, keadaan Robi kian memburuk dan bahkan Robi kabarnya sudah tidak bisa berjalan saat itu. Akhirnya Robi dibawa kembali ke rumah sakit. Tata hanya bisa mengetahui kabar Robi dari Ayah Robi. Itupun tidak setiap waktu. Tata hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Robi.

Beberapa minggu kemudian, Tata mendapat kabar bahwa sahabat yang amat disayanginya itu telah menghembuskan napas terakhirnya. Robi telah meninggalkannya untuk selamanya. Sejak saat itu, Tata tak henti-hentinya menangis. Ia merasa sangat kehilangan sahabat tersayangnya itu.

Tata baru bisa berziarah ke tempat peristirahat terakhir Robi dua hari setelah Robi meninggal. Ia meminta kedua orangtuanya untuk mengantarkannya ke tempat di mana Robi dimakamkan. Mendapat kabar dari ayah Robi, ia dimakamkan di daerah Tasikmalaya, bersebelahan dengan makam ibunya.

Angin yang berhembus cukup kencang disertai rintik-rintik hujan yang semakin deras terus membasahi Tata dan tanah pekuburan membuyarkan lamunan Tata yang tengah melayang jauh mengenang saat-saat bersama Robi. Suara petir makin menggelegar. Seolah diingatkan, Tata segera berdiri tertegun memandangi makam Robi dengan cukup lama seolah berpamitan untuk yang terakhir kali kepada sahabatnya. Kemudian ia berlari menuju mobil. Di dalam mobil yang bergerak perlahan, Tata menatap pemakaman untuk terakhir kalinya. Kamu tak perlu takut, Rob. Kamu akan selalu dihatiku selamanya. Selamat tinggal sahabatku…


(sumber: browsing google)

(sumber: browsing google)

Kerispatih - Demi Cinta

Kerispatih - Demi Cinta


TAGS cerpen sahabat..


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post